Rahmah El-Yunusiyah tercatat sebagai tokoh keempat dari tujuh belas figur yang dipilih dalam rangkaian program Nusantara Centre untuk merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-81. Nama dan pemikiran para pendiri republik diangkat kembali melalui serangkaian kegiatan yang dirancang untuk menghadirkan kembali gagasan-gagasan mereka dalam ruang publik.

Program ini berlangsung sepanjang Juni hingga Juli 2026 dengan tema merayakan Indonesia agar negeri menjadi raya dan jaya. Cara perayaan yang ditempuh tidak sekadar seremoni, melainkan berupa upaya sistematis: mengadakan kelas pemikiran, membukukan materi, memfilmkannya, dan menyebarkannya agar dapat diakses oleh publik luas dalam semangat kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.
Program peringatan HUT ke-81 yang berbasis kajian
Rangkaian kegiatan Nusantara Centre dirancang sebagai peringatan yang sekaligus menjadi wadah edukatif. Inti dari program ini adalah menggali pemikiran para pendiri negeri lewat pendekatan akademis dan populer, lalu menerjemahkan hasil kajian tersebut ke dalam format yang mudah diakses oleh masyarakat. Dalam konteks ini, perayaan HUT ke-81 diarahkan tidak hanya untuk mengenang, tetapi juga untuk membumikan gagasan-gagasan pendiri republik.
Pendekatan: kelas, buku, dan film
Salah satu aspek menonjol dari program adalah penyelenggaraan “kelas jenius” yang memfokuskan pada pemikiran pendiri republik. Materi yang dihasilkan dari kelas-kelas ini kemudian akan dibukukan sebagai referensi tertulis dan difilmkan untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Strategi multiplatform ini dimaksudkan agar gagasan-gagasan inti dapat hidup dalam berbagai medium—dari kajian tekstual hingga narasi visual—sehingga dapat menyentuh beragam lapisan masyarakat.
Upaya mendokumentasikan dan menyebarkan pemikiran pendiri melalui buku dan film juga membuka kesempatan bagi publik untuk mengkaji ulang akar gagasan kebangsaan. Dengan format yang beragam, diharapkan pesan-pesan penting dapat diinternalisasi dan dijadikan rujukan praktik berbangsa dan bernegara.
Rahmah El-Yunusiyah sebagai tokoh pilihan
Pemilihan Rahmah El-Yunusiyah sebagai tokoh keempat dari tujuh belas tokoh menunjukkan perhatian pada ragam tokoh pendiri yang akan diangkat. Sosok ini ditempatkan bersama enam belas figur lain dalam upaya menyusun kelas pemikiran yang komprehensif. Penempatan nama-nama tersebut dalam sebuah rangkaian bertujuan memberi gambaran pluralitas kontribusi terhadap pembentuk identitas nasional.
Dengan dipilihnya Rahmah El-Yunusiyah, program menegaskan pentingnya menghadirkan kembali narasi tokoh-tokoh pendiri dalam bentuk yang relevan bagi masa kini. Langkah ini membuka ruang bagi publik untuk membaca lebih jauh, meneliti, dan meneladani nilai-nilai yang dianggap berkontribusi pada kelangsungan dan kedaulatan bangsa.
Menyebarluaskan pemikiran untuk kedaulatan dan kesentosaan
Semangat yang diusung dalam kegiatan ini berkaitan erat dengan ide kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara. Penyebaran materi melalui buku dan film dimaksudkan untuk memperkuat pemahaman kolektif terhadap nilai-nilai yang menjadi pijakan bernegara. Selain itu, pendekatan ini berupaya menjembatani antara kajian intelektual dan praktik kehidupan bermasyarakat.
Upaya penyebaran yang terencana diharapkan meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber-sumber gagasan pendiri republik, sehingga tidak sekadar menjadi bahan peringatan tahunan, melainkan bagian dari upaya pendidikan berkelanjutan yang memperkaya wacana kebangsaan.
Seruan untuk membaca, meneliti, dan meneladani
Penyelenggara mengajak masyarakat untuk aktif terlibat: membaca hasil kajian, meneliti warisan pemikiran yang diangkat, dan meneladani nilai-nilai yang relevan dengan masa kini. Ajakan ini menempatkan pembelajaran sejarah dan pemikiran pendiri republik sebagai proses yang hidup dan dapat memberi arah bagi tindakan kolektif dalam memperkuat negara.
Melalui rangkaian kegiatan selama Juni–Juli 2026, program ini tidak hanya menandai perayaan HUT ke-81, tetapi juga berupaya menciptakan jejak intelektual yang dapat dirujuk oleh generasi sekarang dan yang akan datang. Dengan demikian, peringatan kemerdekaan dipandang sebagai momentum refleksi sekaligus pembelajaran praktis mengenai makna kedaulatan dan kesentosaan bernegara.
